Cermin yang bening telah menjadi buram. Kata-kata hikmah kini menjadi bersayap, entah apa maksudnya. Suara-suara merdu hanya untuk meninabobokan sementara. Kita tidak tahu mesti percaya kepada siapa. Bertanya, tapi ragu-ragu atas jawabannya. Jika kaca sudah buram dan kata hikmah sudah tidak bertuah, terus ke mana kita 'mencerminkan' diri? Ke mana kita bertanya? Dan di mana mendapat jawaban?rnrn…