Gus Dur menginginkan agar Islam memberikan kesempatan lebih luas kepada semua orang untuk berkarya tanpa dibatasi oleh apapun, seperti identitas politik dan etnik.rnrnArtikel-artikel yang terkumpul dalam buku ini dirangkai dengan gaya penuturan yang lugas dan mudah dicerna banyak kalangan, Gus Dur sesungguhnya tengah melakukan diagnosa situasi nasional dan problem keumatan yang melalui tulisann…
BAB I PENDAHULUAN 1rnIslam, Muslim, Tasawuf, dan Sufi 1rnDakwah Islam di Indonesia-10rnFalsafah Jawa: Etika Sosial dalam. Bingkai Tasawuf 18rnKaum Sufi di Nusantara 24rnrnBAB II JAWA DALAM LINTASAN SEJARAH 35rnAsal-usul. Penduduk Jawa-37rnAgama dan Kepercayaan di Jawa 44rnKedatangan Islam di Jawa 50rnKerajaan Islam di Jawa 58rnKerajaan Islam Demak 61rnKerajaan Pajang 63rnKerajaan Mataram 66rnKe…
Para Mukmin sejati memandang Islam sebagai satu-satunya jalan yang lurus (al-shirth al-mustaqm). Isu utama mereka adalah bagaimana kaum Muslim melaksanakan Islam secara kffah (total). Hal ini bisa menimbulkan kesan bahwa dunia di mata mereka hanya berwajah biner: Islam/kafir, thght/Allah, haqq/bthil, jahiliyah/Islami, Dr Al-Islm/dr al-harb, dan seterusnya. Dengan pandangan-dunia semacam itu, ba…
Buku “Islam dan Sekularisme” merupakan salah satu karya yang ditulis oleh seorang tokoh besar yang bernama Syed Muhammad Naquib Al Attas. Beliau merupakan salah satu tokoh kunci pada diskursus Islamisasi ilmu. Dialah orang pertama yang secara eksplisit menyatakan dan meresmikan proyek Islamisasi ilmu ketika diadakan Konferensi Pendidikan Islamisasi Internasional di Mekkah, tahun 1977. Ide i…
Adanya perbedaan para pelaku dan peristiwa-peristiwa dalam kebijaksanaan politik Islam dewasa ini, telah membangkitkan sekian banyak pertanyaan. Diantaranya, Islam itu milik siapa ?, siapakah yang berhak memberikan penafsiran terhadap peranan beserta kedudukannya dalam negara dan masyarakat: apakah para penguasa ataukah para pemuka agama ataukah organisasi-organisasi Islam ?
Manusia yang menderita adalah manusia yang hidup di pinggiran lingkaran eksistensi. Pusat eksistensi adalah Yang Bathin, Pinggiran eksistensi adalah yang Zhahir. Hanya dengan menggunakan rasionalitas (humanisme) kental yang diagung-agungkan kaum Barat, manusia tidak akan dapat menuju transformasi spiritual menuju pusat eksistensi- menjadi manusia yang utuh (al insanil kamil).
Seluruh drama kehidupan manusia—lahir, jabang bayi, anak-anak, remaja, dewasa, tua; masa sekolah, mencari kerja, berkeluarga, bermasyarakat; nonton bola, main musik, jalan-jalan, makan-makan, santai, ngobrol, olahraga, dan sebagainya dan seterusnya—akan berakhir di sini: neraka atau surga. Kalau seseorang sudah di neraka, apakah ia bakal tinggal di sana selamanya? Ataukah pada akhirnya, sem…