Buku ini secara mendalam menguraikan bahwa meskipun Al-Qur'an sebagai teks wahyu memiliki kebenaran mutlak (ilahiah), proses penafsiran atau pembacaan yang dilakukan manusia selalu bersifat terbatas, subjektif, historis, dan kultural. Ali Harb mengajak pembaca untuk tidak menyamakan antara "kesucian teks" dengan "produk pemikiran/tafsir" manusia atas teks tersebut.